Metode Pengulangan dalam Pembelajaran: Teladan Nabi dan Relevansinya bagi Tenaga Pendidik
Tenaga pendidik tidak hanya berperan sebagai pengajar yang menyampaikan materi kepada peserta didik, tetapi juga sebagai perancang strategi pembelajaran yang efektif dan efisien. Metode yang baik akan membantu peserta didik memahami pelajaran secara mendalam serta mampu menghubungkannya dengan kehidupan di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, tenaga pendidik perlu menyiapkan pendekatan pembelajaran secara matang, terstruktur, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode pengulangan (repetition method).
Metode pengulangan atau repetition method merupakan teknik pembelajaran yang memfokuskan pada pengulangan materi atau keterampilan tertentu. Pengulangan ini membantu memperkuat daya ingat, pemahaman jangka panjang, serta retensi peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari. Konsep pengulangan juga memiliki dasar yang kuat dalam tradisi Islam, sebagaimana tercermin dalam sejumlah hadis Nabi.
Di antara hadis yang menjadi landasan metode pengulangan adalah sabda Rasulullah SAW berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدَةُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا (رواه البخارى)
Artinya: “Rasulullah SAW apabila memberi salam, beliau mengulanginya tiga kali, dan apabila berbicara dengan suatu kalimat, beliau mengulanginya tiga kali.” (HR. Bukhari)
Hadis ini memberikan gambaran bahwa pengulangan merupakan salah satu metode efektif dalam proses pembelajaran maupun penyampaian informasi. Rasulullah SAW mengulang suatu ucapan agar pesan yang disampaikan mudah dipahami, lebih mengena, dan tidak mudah dilupakan. Bahkan, ketika menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW menirukan dan mengulang bacaan “iqra’” yang dibacakan oleh Malaikat Jibril, menunjukkan pentingnya pengulangan sebagai proses pemahaman dan penguatan.
Dalam konteks pembelajaran modern, tenaga pendidik dianjurkan menerapkan pengulangan setelah penyampaian materi agar pemahaman peserta didik semakin kuat. Pengulangan juga membantu mengembalikan fokus peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari sebelumnya, sehingga tidak mudah hilang atau terlupakan. Ketika materi baru disampaikan, guru dapat membuka sesi pembelajaran dengan mengulang kembali poin penting dari materi sebelumnya untuk mengaktifkan kembali memori peserta didik.
Terdapat berbagai teknik pengulangan yang dapat digunakan, seperti pengulangan berjeda (spaced repetition), penggalian materi secara aktif (active recall), pengulangan elaboratif, penggunaan alat bantu memori, serta latihan mengingat dengan metode selang-seling. Dalam praktik kelas, pengulangan dapat diwujudkan melalui kegiatan latihan berulang, refleksi, review materi awal, dan penggunaan flashcard sebagai alat bantu visual.
Metode pengulangan juga dapat dioptimalkan dengan mengatur interval pengulangan sesuai kebutuhan. Pengulangan pertama dilakukan satu hari setelah pembelajaran untuk mencegah penurunan daya ingat. Pengulangan berikutnya dapat dilakukan pada hari ketiga untuk memperkuat memori awal, kemudian pada hari ketujuh untuk menyeimbangkan penyimpanan memori, dua minggu setelahnya untuk memperkuat retensi jangka panjang, dan satu bulan setelahnya untuk memastikan materi tersimpan dalam ingatan jangka panjang.
Kombinasi metode spaced repetition dengan active recall terbukti sangat efektif. Teknik ini mendorong peserta didik menggali informasi secara mandiri tanpa melihat catatan, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih aktif dan bermakna. Tenaga pendidik dapat mengadaptasi teknik ini melalui penggunaan soal pengingat, kuis ringan, ataupun kartu tanya-jawab.
Dengan penerapan metode pengulangan yang konsisten, bertahap, dan terstruktur, proses pembelajaran di kelas dapat berlangsung lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada pemahaman mendalam. Pengulangan yang dilakukan pada waktu-waktu optimal—seperti pagi dan sore hari—juga dapat membantu peserta didik menyerap informasi dengan lebih baik. Metode ini, jika diterapkan secara tepat, akan membantu peserta didik mencapai hasil belajar yang lebih maksimal dan berkelanjutan.
Penulis: Siti Aulia — Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Depok



Post Comment