×

The First Verse Revealed to Humankind

Ulama masih khilaf tentang turunnya ayat yang pertama kali turun, setidaknya ada empat pendapat yang akan kami jelaskan di sini, sesuai dengan penjelasan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya Zubdatu al-Itqan.

Pertama, berdasarkan riwayat otoritatif yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra. dan tercantum dalam korpus hadis sahih, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad ﷺ adalah ayat-ayat awal Surah Al-‘Alaq. Riwayat tersebut menjelaskan bahwa sebelum peristiwa pewahyuan, Nabi ﷺ terbiasa melakukan tahannuts di Gua Hira’. Pada fase inilah Malaikat Jibril menyampaikan perintah اقرأ, yang direspons Nabi ﷺ dengan ungkapan ما أنا بقارئ. Selanjutnya, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu Surah Al-‘Alaq, yang dalam sebagian riwayat mencakup ayat 1–3 dan dalam riwayat lain hingga ayat 5. Riwayat ini memiliki dasar autentik dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Kedua, berdasarkan riwayat yang ditransmisikan oleh Abu Salamah bin ‘Abd al-Rahman, ia menanyakan kepada Jabir bin ‘Abdillah ra. mengenai ayat yang pertama kali diturunkan, apakah اقرأ باسم ربك atau يا أيها المدثر. Jabir ra. menjelaskan bahwa berdasarkan penuturannya dari Nabi Muhammad ﷺ, ayat yang pertama kali diturunkan adalah يا أيها المدثر. Riwayat ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Sekilas, dua riwayat di atas tampak saling bertentangan. Namun dalam kerangka metodologi keilmuan Islam, para ulama telah mengajukan formulasi rekonsiliatif untuk menjawab persoalan ini.

1. Ayat يا أيها المدثر dipahami sebagai wahyu pertama yang diturunkan dalam konteks kerasulan (al-risālah), yakni fase penugasan Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan risalah secara terbuka. Adapun ayat اقرأ باسم ربك diposisikan sebagai wahyu pertama dalam konteks kenabian (al-nubuwwah), yaitu fase awal penerimaan wahyu sebelum adanya mandat dakwah.

2. Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat اقرأ باسم ربك merupakan wahyu pertama yang diturunkan secara absolut, sementara Surah Al-Muddatstsir dipahami sebagai surah pertama yang diturunkan secara utuh (kāmilan). Dengan demikian, perbedaan riwayat tidak menunjukkan kontradiksi substansial, melainkan variasi sudut pandang dalam memahami fase-fase pewahyuan.

Ketiga, dalam sebagian literatur periwayatan, Imam al-Baihaqī menukil pendapat yang menyatakan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah Surah al-Fātihah. Namun, pendapat ini dinilai problematis oleh mayoritas muhaqqiqīn di kalangan ulama hadis, karena riwayat yang mendasarinya diklasifikasikan sebagai hadis mursal, sehingga tidak mencapai derajat penerimaan yang memadai dalam penetapan kronologi pewahyuan. Lebih jauh, sebagian ulama mengajukan kemungkinan bahwa turunnya Surah al-Fātihah terjadi pasca pewahyuan ayat اقرأ باسم ربك, sebuah pandangan yang dinilai lebih koheren dengan konstruksi historis dan metodologi kritik sanad yang berlaku.

Keempat, dalam sebagian pandangan disebutkan bahwa lafaz بسم الله الرحمن الرحيم merupakan ayat pertama yang diturunkan. Namun pendapat ini dikritik oleh Imam as-Suyūtī, yang menilai bahwa klaim tersebut tidak memiliki signifikansi metodologis dalam penetapan kronologi pewahyuan. Hal ini disebabkan karena basmalah dipahami sebagai lafaz pembuka yang menyertai turunnya setiap wahyu, sehingga keberadaannya bersifat konsekuensial, bukan indikatif terhadap urutan temporal turunnya ayat. Oleh karena itu, pendapat ini tidak dapat dijadikan landasan independen dalam menentukan wahyu pertama.

Semoga bermanfaat.


Moch. Wildan Kamil (Awardee LPDP PKUMI) 2025

Post Comment