Menulis dalam Pandangan Islam: Refleksi atas Hadis ‘Ikatlah Ilmu dengan Tulisan’
Menulis merupakan salah satu anugerah besar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Dengan kemampuan menulis, manusia dapat menyampaikan ilmu, menyimpan pengetahuan, dan mewariskan gagasan lintas generasi. Dalam Islam, menulis memiliki kedudukan yang sangat mulia karena menjadi sarana untuk menjaga ilmu dan mengabadikan kebenaran. Sejak wahyu pertama turun, Allah telah menyinggung tentang pentingnya tulisan sebagaimana termaktub dalam firman-Nya: “Iqra’ wa rabbuka al-akram, alladzi ‘allama bil qalam” “Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam (pena)” (QS. Al-‘Alaq: 3–4). Ayat ini menunjukkan bahwa pena dan tulisan memiliki peran penting dalam membangun peradaban Islam.
Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya menulis dalam menjaga ilmu dan amanah pengetahuan. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
(رواه الطبراني)
Artinya: “Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” (HR. Thabrani)
Hadis singkat ini mengandung makna yang sangat mendalam. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dihafal atau diucapkan, tetapi harus diikat dengan tulisan agar tidak mudah hilang. Dalam konteks ini, tulisan bukan sekadar kegiatan mencatat, melainkan bentuk tanggung jawab seorang Muslim terhadap ilmu yang diterimanya. Dengan menulis, seseorang tidak hanya mengingat, tetapi juga menjaga ilmu agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain di masa depan.
Menulis dalam Islam bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga bagian dari ibadah. Ketika seseorang menulis dengan niat untuk menyebarkan kebaikan, maka setiap huruf yang ia tulis akan bernilai pahala. Tulisan dapat menjadi amal jariyah pahala yang terus mengalir bahkan setelah penulisnya meninggal dunia, selama tulisannya membawa manfaat bagi orang lain. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Tulisan yang mengandung ilmu yang bermanfaat termasuk ke dalam kategori ilmu yang terus mengalir pahalanya.
Sejarah Islam mencatat bahwa kemajuan umat Muslim tidak terlepas dari tradisi menulis. Para ulama terdahulu seperti Imam Bukhari, Imam Ghazali, dan Imam Syafi’i dikenal bukan hanya karena kecerdasan mereka, tetapi juga karena karya tulis mereka yang menjadi sumber ilmu hingga kini. Mereka menyadari betul pesan Rasulullah bahwa ilmu akan hilang jika tidak diabadikan. Maka dari itu, menulis menjadi salah satu bentuk jihad intelektual dalam Islam perjuangan menjaga dan menyebarkan kebenaran melalui pena.
Dalam kehidupan modern, pesan hadis ini tetap relevan. Menulis dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan refleksi diri. Melalui tulisan, seseorang dapat menebar kebaikan di ruang-ruang digital, memperjuangkan keadilan, serta membangun kesadaran umat. Namun, Islam juga mengingatkan agar tulisan digunakan dengan tanggung jawab moral. Menulis bukan untuk menyebarkan kebencian atau fitnah, melainkan untuk mengajak kepada kebaikan dan menumbuhkan ilmu. Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 18: “Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu mencatat.” Ayat ini dapat dimaknai bahwa setiap kata, baik yang diucapkan maupun yang ditulis, akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Tulisan memiliki kekuatan untuk mengubah cara berpikir manusia. Dari pena bisa lahir kedamaian, ilmu, bahkan peradaban, tetapi dari pena pula bisa lahir fitnah dan kehancuran. Karena itu, setiap Muslim seharusnya menulis dengan kesadaran bahwa setiap huruf yang ia torehkan akan dimintai tanggung jawab. Menulis dengan niat yang baik, untuk menebarkan manfaat dan memperkuat nilai-nilai kebenaran, akan menjadikan pena sebagai saksi amal saleh di hadapan Allah SWT. Maka, menulis bukan sekadar kegiatan duniawi, melainkan jalan menuju keberkahan dan pahala yang abadi sebab di balik setiap tulisan yang bermanfaat, tersimpan doa dan jejak kebaikan yang tak pernah padam.
Penulis Syakira maftuha qolbi (Mahasiswi Universitas Islam Depok)



Post Comment